Peringati Hari Veteran Nasional, FWBR Ajak Generasi Muda Lanjutkan Perjuangan Melalui Karya

Berita612 Dilihat

BEKASI |Nusantara Merdeka News|Peringatan Hari Veteran Nasional yang jatuh pada setiap 10 Agustus dinilai sering kali terjebak dalam romantisme sejarah dan formalitas seremonial tahunan. Forum Wartawan Bekasi Raya (FWBR) menyuarakan kritik tajam agar momentum ini dijadikan pengingat keras bagi negara dan masyarakat untuk memberikan penghargaan serta perhatian nyata terhadap kesejahteraan para pejuang bangsa, bukan sekadar janji manis di atas mimbar upacara.

Ketua Umum FWBR, Suryono ST (Ketua Aing), menegaskan bahwa penghormatan tertinggi kepada veteran terletak pada bagaimana negara menjamin kehidupan layak bagi mereka di usia senja, serta bagaimana generasi penerus melanjutkan nilai perjuangan tersebut dalam tindakan nyata.

“Jangan hanya mengenang veteran ketika ada upacara atau peringatan Hari Veteran Nasional. Penghormatan harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Negara dan masyarakat harus memastikan para veteran mendapatkan penghargaan yang layak atas pengabdian mereka,” ujar Ketua Aing di Bekasi, Senin (10/8/2026).

Bukan Sekadar Pelaku Revolusi 1945

Ketua Aing mengingatkan bahwa definisi veteran tidak terbatas pada pejuang revolusi fisik 1945–1949 semata. Sesuai regulasi, ruang lingkup veteran mencakup berbagai fase pengabdian penting bagi kedaulatan NKRI:

Veteran Pejuang Kemerdekaan RI: Pejuang perang kemerdekaan (1945–1949).

Veteran Pembela Trikora: Pelaku sejarah pembebasan Irian Barat (1961–1962).

Veteran Pembela Dwikora: Pengabdi dalam konfrontasi Malaysia (1964–1966).

Veteran Pembela Seroja: Pejuang dalam operasi integrasi Timor Timur.

Veteran Perdamaian: Personel yang bertugas dalam misi perdamaian PBB.

“Artinya, semangat pengabdian mereka hadir dalam berbagai fase sejarah kritis. Kita wajib memberikan penghormatan yang setara atas setiap tetes keringat dan darah yang dicurahkan demi kedaulatan negara,” tegasnya.

Tantangan Zaman dan Tanggung Jawab Pers

Memaknai Hari Veteran Nasional yang berakar dari peristiwa gencatan senjata Surakarta (10 Agustus 1949) dan dikukuhkan melalui Keppres No. 30/2014, Ketua Aing menyoroti pergeseran medan tempur generasi saat ini. Perjuangan hari ini tidak lagi menggunakan senjata, melainkan melawan ketimpangan, menjaga persatuan, memperkuat pendidikan, serta menegakkan hukum.

Ia juga menyentil peran pers agar tidak bersikap pragmatis dengan hanya mengangkat isu veteran saat momen peringatan nasional semata.

“Pers memiliki tanggung jawab moral untuk merawat ingatan bangsa. Cerita para veteran harus terus disampaikan secara faktual dan edukatif. Veteran boleh menua, tetapi semangat juangnya harus tetap hidup di dalam diri generasi penerus,” pungkasnya

(Red)