NMN | Kabupaten Bekasi – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi mercusuar harapan bagi perbaikan gizi nasional, kini justru memanen kritik pedas.
Pemimpin Redaksi Nusantara Merdeka News, Marakeh (Nano), dengan lugas menyebut kondisi menu saat ini sangat memprihatinkan. Kritik ini bukan tanpa alasan, ada kesenjangan lebar antara narasi politik “Generasi Emas” dengan kenyataan di atas meja makan siswa.
Darurat Kualitas Karbohidrat Berlebih, Protein “Sembunyi”
Pantauan redaksi menunjukkan bahwa di banyak titik distribusi, menu MBG masih terjebak pada pola lama: padat karbohidrat, miskin mikronutrien. Masalah Protein Lauk pauk yang disajikan seringkali tidak memenuhi gramasi protein hewani yang dibutuhkan anak usia sekolah.
Standar Higienitas Selain nutrisi, kelayakan pengemasan dan kebersihan dapur umum masih menjadi tanda tanya besar.
Keseragaman yang Semu Kualitas menu di kota besar tampak kontras dengan wilayah pelosok, menunjukkan kegagalan standarisasi nasional.
Evaluasi Total atau Gagal Total
Pemred Nusantara Merdeka News mendesak pemerintah untuk tidak menutup mata terhadap temuan di lapangan. Jika menu yang disajikan hanya “sekadar ada” untuk menggugurkan kewajiban administratif, maka program ini tak lebih dari pemborosan anggaran negara secara masif.
Tiga Tuntutan Utama Redaksi
– Audit Gizi Independen Libatkan ahli gizi independen untuk mengecek kandungan kalori dan protein di tiap porsi secara berkala.
-Transparansi Rantai Pasok Buka ke publik berapa biaya bersih per porsi yang sampai ke tangan penyedia jasa (vendor) agar tidak ada pemotongan yang mengorbankan kualitas bahan.
-Sanksi Tegas Vendor Putus kontrak penyedia makanan yang terbukti menyajikan menu di bawah standar kelayakan.
“Memberi makan anak bangsa dengan menu yang memprihatinkan adalah bentuk ketidakseriusan negara dalam berinvestasi pada otak manusia.” —
( Red )













