Sentil Penguasa Lewat Tembang Iwan Fals, Srikandi FWBR Jangan Sakiti Pejuang Berita!

Berita145 Dilihat
banner 468x60

BEKASI — Nusantara Merdeka News – Aksi Damai Solidaritas Wartawan Bekasi Raya di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi, Kamis (15/10/2026), berlangsung memanas namun elegan. Tak sekadar diwarnai orasi dan deretan tuntutan, panggung demonstrasi ratusan wartawan dari berbagai organisasi media ini mendadak menjadi arena kritik kebudayaan yang menohok hati para pemangku kekuasaan.

‎Suasana kian membakar ketika Nur Islami, wartawati media Info Hukum yang tergabung dalam Forum Wartawan Bekasi Raya (FWBR), naik panggung. Bersama suaminya, Anwar Sanusi, Nur Islami berdiri di barisan terdepan untuk menyerukan perlawanan terhadap segala bentuk intimidasi dan pelecehan terhadap profesi jurnalistik.

banner 336x280

‎Bersenjatakan musik, Nur Islami melantunkan lima tembang tajam. Salah satunya adalah lagu ciptaannya sendiri yang sarat makna spiritual dan perjuangan: “Saat Pena Dipaksa Tumpul”. Lagu ini menjadi simfoni perlawanan yang menggambarkan betapa beratnya perjuangan insan pers saat kebebasan mereka dihalangi oleh tembok kekuasaan.

‎Tak berhenti di situ, empat lagu legendaris karya Iwan Fals—Bento, Bongkar, Tikus Kantor, dan Kemesraan—turut digelorakan, menggetarkan halaman kantor Pemkab Bekasi sekaligus menyentil telinga para pejabat di dalam gedung.

‎Dalam orasinya, Nur Islami melemparkan peringatan keras dan tajam yang ditujukan langsung kepada para pemegang tampuk kekuasaan di Kabupaten Bekasi.

‎”Untuk para penguasa, ingatlah, jangan terbang terlalu tinggi. Sebab, ketika jatuh, rasanya akan sangat sakit. Jangan sakiti para pejuang berita karena kami bekerja keras dengan keringat dan hati,” tegas Nur Islami di hadapan massa aksi.

‎Ia menyoroti ironi ketimpangan sosial dan perlakuan kasar yang kerap diterima wartawan. Menurutnya, kerja-kerja jurnalistik dilakukan dengan menguras tenaga, pikiran, dan hati nurani demi menyajikan kebenaran bagi masyarakat. Namun, alih-alih dihormati, profesi ini justru kerap direndahkan, diintimidasi, bahkan dihalangi saat bertugas.

‎Aksi ini menjadi pengingat keras bahwa wartawan bukan sekadar peliput acara seremonial, melainkan pilar keempat demokrasi yang wajib dihormati etika dan keberadaannya.

‎Menutup aksinya, Nur Islami memberikan apresiasi mendalam dan membakar semangat solidaritas seluruh wartawan yang hadir meluangkan waktu dan tenaga demi menjaga martabat pers.

‎”Untuk teman-teman, terima kasih atas energi, waktu, dan kasih sayangnya hari ini. Tetap semangat memperjuangkan marwah pers. Salam satu pena!” pungkasnya.

‎Penampilan seni yang dibalut protes keras ini diharapkan menjadi tamparan introspektif bagi pejabat publik di Kabupaten Bekasi agar lebih menghargai peran strategis pers dan tidak lagi sewenang-wenang terhadap pilar demokrasi.

(Red)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha