Satu Sentimeter di Bawah Tanah Ketika Mahkota Kekuasaan Berubah Jadi Kain Kafan

Uncategorized27 Dilihat
banner 468x60

BEKASI, Nusantara Merdeka News — Langkah kakinya menggema menampar lantai marmer gedung bertingkat. Tatapannya ketus, seolah pilar-pilar beton dan jajaran staf di sekelilingnya tunduk dalam cengkeraman takdir yang ia genggam sendiri. Dengan setelan jas mahal dan tanda jabatan yang tersemat mengilap di dada, sang pejabat merasa bumi berguncang setiap kali ia berdeham.

‎Ia lupa atau mungkin sengaja melupakan bahwa kursi empuk bertangan emas itu hanyalah barang pinjaman.

banner 336x280

‎Di gedung itu, ia dipanggil “Yang Terhormat”. Kata-katanya diangp sabda, perintahnya menjadi hukum, dan teguran sinisnya dianggap cambuk keberanian. Staf yang membenarkan tali sepatunya disapu pandangan sebelah mata. Keharuman parfum mahalnya mengusir bau peluh masyarakat kecil yang antre di luar pintu kantornya, menanti secercah keadilan yang tak kunjung turun.

‎”Kuasa ini milikku,” bisik kesombongannya setiap kali lampu sorot kamera mengarah ke wajahnya. Kesombongan yang pelan-pelan membutakan matanya dari kenyataan sederhana: tak ada takhta di dunia ini yang abadi.

‎Baja yang Pasti Berkarat, Kursi yang Pasti Berganti

‎Lihatlah sejarah. Kekaisaran megah runtuh menjadi puing, raja-raja tirani terkubur bersama keangkuhannya, dan para pejabat arogan di masa lalu kini bahkan tak diingat namanya.

‎Jabatan yang hari ini membuat seseorang menepuk dada dan membusungkan busana, besok lusa hanyalah selembar Surat Keputusan (SK) Pensiun atau lebih buruk lagi, rompi oranye penyesalan di depan gedung penegak hukum. Saat lembaran SK itu dicabut, sorak-sorai ajudan menghilang. Dering telepon yang biasanya tak berhenti, mendadak bisu. Yang tersisa hanyalah bayangan dari keangkuhan sendiri yang siap menerkam di masa tua.

‎Nusantara Merdeka News mengingatkan dengan lugas dan tanpa basa-basi:

‎Jabatan Bukan Mahkota, Tapi Beban: Anda diangkat untuk melayani, bukan untuk dilayani. Baju dinas yang Anda kenakan dibeli dari rupiah demi rupiah pajak rakyat yang memeras keringat di bawah terik matahari.

‎Kesombongan Adalah Awal Kehancuran: Ketika seorang pejabat merasa lebih tinggi dari hukum dan lebih berharga dari rakyatnya, saat itulah hitung mundur kehancurannya dimulai.

‎Semua Ada Batasnya: Ingatlah bahwa pada akhirnya, tidak ada protokoler, mobil pengawal, atau ajudan yang ikut masuk ke dalam liang lahat. Kain kafan tidak memiliki saku untuk menyimpan tanda jabatan.

‎Renungan Akhir

‎Kepada para pejabat yang saat ini sedang mabuk kekuasaan, berjalanlah lebih menunduk. Dengarkan bisikan angin di luar jendela kantor Anda yang megah. Di sana, rakyat sedang menanti kerja nyata, bukan kesombongan verbal dan gestur arogan.

‎Ingatlah, ketinggian jabatan Anda hari ini hanyalah ilusi semalam. Saat panggung kekuasaan usai dan lampu sorot dimatikan, kita semua hanyalah manusia biasa yang akan kembali ke tanah yang sama—satu sentimeter di bawah telapak kaki orang-orang yang dulu Anda hinakan.

‎Kembalilah membumi, sebelum bumi memanggil Anda kembali.

 

perenungan moral dari Pemimpin Redaksi (Pimred) Nusantara Merdeka News.

‎

‎

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha


News Feed