BEKASI — Nusantara Merdeka News – Di balik dinding rumah sakit yang kerap dianggap kaku dan menegangkan, selalu ada cerita tentang kehangatan kemanusiaan yang mampu menyembuhkan sebelum obat bekerja. Pengalaman inilah yang tengah dirasakan oleh Ferry Haras, Pemimpin Redaksi media online Info Hukum.
Pemuda asal Gorontalo yang kesehariannya akrab dengan dinamika dunia jurnalistik ini harus sejenak menepi dari rutinitas. Ia tengah berjuang melawan penyakit diabetes yang membawanya menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit (RS) Siloam, Jalan Sepanjang Jaya, Rawalumbu, Kota Bekasi.
Namun, alih-alih rasa cemas, ruang perawatan justru memberikannya ketenangan batin. Ferry mengaku terkesan dan sangat terbantu dengan dedikasi serta keramahan yang ditunjukkan oleh seluruh tenaga medis di sana, khususnya para perawat di ruang isolasi.
”Semua pelayanan suster dan perawat di ruang isolasi sangat baik, ramah, serta sopan. Sebagai pasien diabetes yang butuh ketenangan, saya merasa sangat nyaman dan benar-benar diperhatikan,” ujar Ferry saat ditemui di ruang perawatannya, Rabu (28/10/2026).
Bagi Ferry, pelayanan di RS Siloam melampaui sekadar prosedur medis standar. Ada sentuhan empati dan pendekatan kekeluargaan yang membuat beban mentalnya sebagai pasien berkurang drastis. Ia bahkan menceritakan bagaimana para perawat kerap melontarkan candaan ringan demi mencairkan suasana dan menghiburnya agar tidak merasa tertekan selama masa isolasi.
Secara khusus, Ferry menyampaikan apresiasi mendalam kepada dua sosok perawat yang meninggalkan kesan manis di hatinya: Syaloomita Patricia Kaunang (yang akrab disapa Mita) dan seorang perawat berdarah Ambon yang rendah hati.
”Saking akrabnya, kami sempat berfoto bersama. Suasananya begitu cair, hangat, dan kekeluargaan, sama sekali tidak kaku,” kenangnya sambil tersenyum.
Tak hanya perawat, rasa terima kasih yang besar juga ia tujukan kepada dokter yang merawatnya, dr. Albert, Sp.PD. Menurut Ferry, dokter spesialis penyakit dalam tersebut memiliki pembawaan yang menenangkan dan selalu menyapa pasien dengan senyuman tulus.
”dr. Albert sangat ramah dan sabar. Penjelasannya mengenai kondisi kesehatan saya disampaikan secara sangat detail, runtut, dan yang paling penting, sangat menenangkan jiwa,” tambahnya.
Keramahan luar biasa ini, menurut Ferry, dirasakannya secara konsisten sejak pertama kali melangkahkan kaki ke area rumah sakit—mulai dari sapaan hangat petugas keamanan (security) di gerbang depan, hingga ke dalam ruang pemeriksaan.
”Saya sangat senang dan kagum. Mulai dari security, dokter, hingga para perawat, semuanya menunjukkan ketulusan. Semoga pelayanan prima di RS Siloam Sepanjang Jaya Rawalumbu ini bisa menjadi standar kebaikan bagi cabang RS Siloam lainnya dan dunia kesehatan Indonesia secara luas,” pungkasnya penuh harap.
Kisah Ferry Haras menjadi pengingat sederhana namun bermakna: bahwa kesembuhan seorang pasien tidak hanya lahir dari canggihnya teknologi dan kelengkapan obat-obatan, melainkan juga dari ketulusan hati, empati, and sentuhan kemanusiaan para tenaga medis yang merawatnya dengan cinta.
( Red )

















