NMN | Jakarta – Suasana di lingkungan Penabur Intercultural School (PIS) Kelapa Gading mendadak memanas setelah sebuah karangan bunga bertuliskan “Playing Victim” terpajang mencolok di depan sekolah pada Kamis (4/12/2025). Kemunculan karangan bunga itu memicu dugaan adanya keterlibatan oknum Jaksa berinisial DWLS, yang disebut-sebut tengah Non Job dan merupakan orang tua murid di sekolah tersebut.
Meski demikian, beberapa orang tua murid membantah keras adanya peran oknum jaksa dan menyebut pemasangan karangan bunga itu sebagai bentuk “solidaritas”, namun klaim tersebut dinilai janggal dan tanpa bukti jelas.
Seorang orang tua murid yang enggan disebut namanya mengklaim melalui sambungan telepon, Jumat (5/12/2025) bahwa dana karangan bunga merupakan “donasi urunan” dari orang tua murid kelas 1 hingga 6 SD.
Namun, ia mengakui tidak memiliki bukti terkait donasi tersebut.
“Pokoknya itu solidaritas dari seluruh orang tua murid,” ujarnya.
Saat disinggung mengenai dugaan keterlibatan Jaksa DWLS—dikenal dengan panggilan D—orang tua tersebut tampak menghindar dan mengaku tidak dekat.
“Saya kurang tahu, saya enggak kenal. Tahu anaknya saja… Dia kan laki-laki, saya biasanya bergaul sama ibu-ibu.”
Meski begitu, ia membenarkan bahwa D adalah seorang Jaksa dan putrinya bersekolah di PIS, serta menekankan pentingnya bukti CCTV untuk memperjelas siapa sebenarnya yang memasang bunga tersebut.
Kemunculan karangan bunga itu langsung menuai kecaman dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gerakan Cinta Indonesia (GRACIA).
Sekretaris GRACIA, Hisar Sihotang, bersama O. Pakpahan (Bidang Hukum) dan Arny Novida Haryati Harianja (Ketua Bidang Pendidikan), menyatakan bahwa aksi itu terkesan terencana dan bertujuan memojokkan LSM serta aparat.
Hisar menyebutkan bunga tersebut muncul di waktu subuh dan menghilang dalam waktu singkat.
“Ini jelas ditujukan untuk menyudutkan GRACIA melalui penyebutan LSM. Saya meyakini ada pihak yang bermain di belakang layar.”
GRACIA menduga kemunculan karangan bunga itu terjadi setelah mereka mengirim surat klarifikasi resmi kepada pihak sekolah terkait dugaan hoaks, fitnah, bullying, dan diskriminasi terhadap sejumlah murid PIS.
Hisar menegaskan agar permasalahan murid PIS disikapi secara dewasa dan tidak dijadikan ajang permainan kekuasaan.
Ia juga membantah keras isu bahwa GRACIA terkait premanisme. Bahkan, berkembang isu liar bahwa oknum Jaksa DWLS diduga menggerakkan ibu-ibu orang tua murid untuk memasang bunga dan memprovokasi narasi tertentu terhadap LSM.
O. Pakpahan menyoroti tuntutan dalam karangan bunga yang meminta Pemda Jakarta Utara mencabut izin LSM.
“Itu asal bunyi. Tidak memahami mekanisme hukum. Permasalahan anak harusnya diselesaikan sekolah.”
Ia menyayangkan sikap sekolah yang tidak merespons surat klarifikasi dari GRACIA, sementara opini liar justru berkembang di antara orang tua murid.
Ketua Bidang Pendidikan GRACIA, Arny Novida Haryati Harianja, juga menolak keras tuduhan bahwa GRACIA membela murid tertentu.
“Kami hanya kirim surat klarifikasi. Tiba-tiba dibilang backup murid. Tuduhan tidak berdasar. Emang yang backup siapa?” [Diori Parulian Ambarita & Yoppi Pragola Surbakti]













